Beranda | Artikel
Biografi Abu Amr bin Al-Ala, Imam Qiraah di Bashrah
Kamis, 11 April 2024

Sesungguhnya orang mukmin yang tulus sangat antusias dalam memanfaatkan musim-musim ketaatan dengan amalan ibadah dan ketaatan yang sepantasnya. Dan berusaha jangan sampai baginya seperti waktu-waktu dan masa-masa lain. Telah disebutkan dalam biografi Abu Amr bin Al-‘Ala’ bahwa dia mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari. [1]

Inilah biografi singkat beliau. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.

Nama lengkap

Nama lengkap beliau adalah:

زَيَّانُ بْنُ العلاء بن عَمَّار بن العريان التميمي المازني البصري

Zayyan bin Al-‘Ala’ bin ‘Ammar bin Al-‘Ariyan At-Tamimi Al-Mazini Al-Bashri.

Kunyahnya: ( أبو عمرو ) Abu ‘Amru.

Dia dilahirkan pada tahun 70 Hijriah di Makkah, namun dibesarkan di Bashrah. [2]

Sifat-sifat secara umum

Abu Amr bin Al-‘Ala’ adalah seorang tabiin dan salah satu dari tujuh imam qiraah.

Dia termasyhur dengan kepandaian berbahasanya, kejujuran, kepercayaan, luasnya ilmu, kezuhudan, dan ibadahnya. Dia termasuk orang-orang Arab terhormat. Dia dipuji oleh Al-Farazdaq rahimahullah dan lainnya.

Dia adalah guru qiraah dan bahasa Arab, satu-satunya di zamannya, mahir dalam ilmu huruf (qiraah), nahwu, dan mengajar dalam waktu lama. Dia termasuk orang yang paling alim tentang qiraah, bahasa Arab, syair, dan sejarah Arab.

Ibrahim Al-Harbi rahimahullah dan lainnya berkata,

كان أبو عمرو من أهل السنة

Abu Amr termasuk ahlusunah.”

Al-Asma’i rahimahullah berkata,

سمعت أبا عمرو يقول : ما رأيت أحدا قبلي أعلم مني، وقال الأصمعي : أنا لم أر بعد أبي عمرو أعلم منه.

Saya mendengar Abu Amr berkata, ‘Saya tidak melihat seorang pun sebelumku yang lebih alim dariku.`” Aku (Al-Asma’i) berkata, “Saya tidak melihat setelah Abu Amr orang yang lebih alim darinya.[3]

Pada hari wafatnya, orang-orang datang menghibur anak-anaknya. Yunus bin Habib rahimahullah berkata,

تعزيكم وأنفسنا بمن لا نرى شبها له آخر الزمان، والله لو قسم علم أبي عمرو وزهده على مائة إنسان لكانوا كلهم علماء زهادًا، والله لو رآه رسول الله ﷺ لسره ما هو عليه

Saya turut menghibur kalian dan diri kami dengan kepergian orang yang tidak ada bandingannya sampai akhir zaman. Demi Allah, seandainya ilmu Abu Amr dan kezuhudan dibagi kepada seratus orang, niscaya mereka semua akan menjadi orang-orang alim dan zuhud. Demi Allah, seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, beliau pasti akan gembira dengan keadaannya.[4]

Keadaannya bersama Al-Qur’an

Abu Amr bin Al-‘Ala’ rahimahullah sangat perhatian dalam mempelajari Al-Qur’an dan mengambilnya dari para syekh dan imam di masanya. Dia membaca (belajar) di Makkah, Madinah, Kufah, dan Bashrah. Tidak ada seorang pun dari tujuh imam qiraah yang memiliki lebih banyak guru darinya. Di antara guru-gurunya adalah Hasan Al-Bashri, Sa’id bin Jubair, ‘Ashim bin Abi An-Najud, Abdullah bin Katsir Al-Makki, ‘Atha’ bin Abi Rabah, Mujahid bin Jabr, Ikrimah bekas budak Ibnu Abbas, dan lainnya rahimahumullah.

Setelah itu, dia memimpin dalam mengajarkan Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada manusia, hingga dia memiliki halaqah (majelis) yang terkenal yang dihadiri oleh siapa saja yang ingin belajar qiraahnya.

Waki’ rahimahullah berkata,

قدم أبو عمرو بن العلاء الكوفة فاجتمعوا إليه كما اجتمعوا على هشام بن عروة، أحد حفاظ الحديث

Abu Amr bin Al-‘Ala’ datang ke Kufah, lalu mereka berkerumun kepadanya sebagaimana mereka berkerumun kepada Hisyam bin ‘Urwah, salah seorang hafizh hadis.

Sesungguhnya orang mukmin yang tulus itu sangat antusias dalam memanfaatkan musim-musim ketaatan dengan amalan ibadah dan ketaatan yang sepantasnya, dan jangan sampai baginya seperti waktu-waktu dan masa-masa lain. Telah disebutkan dalam biografi Abu Amr bin Al-‘Ala’ rahimahullah bahwa dia mengkhatamkan (menyelesaikan) Al-Qur’an setiap tiga hari dan mengevaluasi dirinya atas itu. Barangsiapa yang tidak memiliki wirid (bacaan) harian dari Al-Qur’an yang dia khatamkan, maka dia menjadi orang yang menyia-nyiakan waktunya dan melampaui batas dalam waktu-waktu kehidupannya, kemudian menyesal ketika penyesalan tidak berguna lagi.

Dia (Abu Amr) apabila memasuki bulan Ramadan, bulan Al-Qur’an, tidak sibuk dengan selain Al-Qur’an. Dia terus seperti itu hingga wafat. [5]

Nashr bin Ali Al-Jahdhami rahimahullah berkata, “Ayahku berkata kepadaku, ‘Syu’bah berkata kepadaku,

انظر ما يقرأ أبو عمرو وما يختار لنفسه فاكتبه، فإنه سيصير للناس أستاذا.

Lihatlah apa yang dibaca Abu Amr dan apa yang dia pilih untuk dirinya, lalu tuliskanlah, karena dia akan menjadi guru bagi manusia.’

Yahya Al-Yazidi rahimahullah berkata,

كان أبو عمرو قد عرف القراءات، فقرأ من كل قراءة بأحسنها، وبما يختار العرب، وبما بلغه من لغة النبي وجاء تصديقه في كتاب الله عز وجل

Abu Amr telah mengetahui qiraah-qiraah, lalu dia membaca setiap qiraah dengan yang terbaiknya, sesuai pilihan orang Arab, dan sesuai apa yang sampai kepadanya dari bahasa Nabi, yang mendapatkan pembenaran dalam Kitab Allah Azza Wajalla.

Dalam qiraahnya, dia memilih untuk meringankan dan mempermudah selama dia menemukan jalannya. Semua orang sepakat dengan qiraahnya, dan mereka menyerupakannya dengan qiraah Ibnu Mas’ud. Sebagian mereka mewasiati sebagian lainnya dengan qiraahnya. [6]

Baca juga: Biografi Abdullah bin Katsir

Gurunya dalam qiraah

Abu Amr bin Al-‘Ala’ mempelajari qiraah dari penduduk Hijaz, Bashrah, dan Kufah. Tidak ada seorang pun dari tujuh imam qiraah yang memiliki lebih banyak guru darinya.

Dia membaca Al-Qur’an di Makkah kepada Sa’id bin Jubair, Mujahid bin Jabr, Ikrimah bin Khalid bekas budak Ibnu Abbas, Atha’ bin Abi Rabah, Abdullah bin Katsir, dan diriwayatkan bahwa dia membacanya kepada Abu Al-‘Aliyah Al-Hasan bin Mihran Ar-Riyahi. Dia membaca di Madinah kepada Abu Ja’far Yazid bin Al-Qa’qa’, Yazid bin Ruman, dan Syaibah bin Nashshah. Dia membaca di Bashrah kepada Yahya bin Ya’mur, Nashr bin ‘Ashim, Hasan Al-Bashri, dan lainnya. Dia membaca di Kufah kepada ‘Ashim bin Abi An-Najud. rahimahumullah [7]

Muridnya dalam qiraah

Banyak orang telah belajar kepada beliau, di antaranya adalah Abdullah bin Al-Mubarak, Abdul Malik bin Quraib Al-Asma’i, Yahya bin Al-Mubarak Al-Yazidi, Al-Abbas bin Al-Fadl, Abdul Warith bin Said Al-Tanuri, Shuja’ Al-Balkhi, Husain Al-Ja’fi, Mu’adh bin Mu’adh, Yunus bin Habib Al-Nahwi, Sahl bin Yusuf, dan Abu Zaid Al-Ansari Sa’id bin Aus, Salam Al-Tawil, Sibawaih, dan lainnya rahimahumullah. [8]

Kedudukannya dalam ilmu hadis

Abu Amr bin Al-‘Ala’ rahimahullah termasuk imam-imam ahlusunah dan para perawi hadis. [9]

Abu Amr meriwayatkan sedikit hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Iyas bin Ja’far Al-Bashri, Yahya bin Ya’mur, Budail bin Maisarah Al-‘Aqili, Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq, Mujahid bin Jabr, Abu Shalih As-Samman, Abu Raja’ Al-‘Utharidi, Nafi’ Al-‘Umari, ‘Atha’ bin Abi Rabah, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Hasan Al-Bashri, dan lainnya rahimuhumullah.

Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata tentangnya, ” ( ثقة ) terpercaya.” [10]

Wafat

Abu Amr meninggal pada tahun 154 H.

Al-Asma’i rahimahullah berkata, “Abu Amr hidup selama delapan puluh enam tahun. Pada hari kematiannya, orang-orang datang untuk memberikan belasungkawa kepada anak-anaknya. Yunus bin Habib rahimahullah berkata,

تعزيكم وأنفسنا بمن لا نرى شبها له آخر الزمان، والله لو قسم علم أبي عمرو وزهده على مائة إنسان لكانوا كلهم علماء زهادًا، والله لو رآه رسول الله ﷺ لسره ما هو عليه

Kami dan kalian sama-sama berduka atas kehilangan seseorang yang kita tidak melihat tandingannya di akhir zaman ini. Demi Allah, jika ilmu dan zuhud (ketakwaan) Abu Amr dibagi kepada seratus orang, maka mereka semua akan menjadi ulama yang zuhud. Demi Allah, jika Rasulullah ﷺ melihatnya, pasti beliau akan merasa senang dengan apa yang ada padanya.’[11]

Demikian, semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas. Selawat dan salam atas Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau.

Baca juga: Biografi Nafi’ bin Abi Nu’aim

***

18 Ramadan 1445, Rumdin Ponpes Ibnu Abbas Assalafy Sragen

Penulis: Prasetyo, S.Kom.


Artikel asli: https://muslim.or.id/92961-biografi-abu-amr-bin-al-ala-imam-qiraah-di-bashrah.html